Keterbatasan Air Minum Bersih di Ruteng, Ini Kendalanya
Clemens menuturkan, ketersedian air di Ruteng sebenarnya sudah lebih dari cukup, baik untuk air minum bersih yang dikelola olah PDAM juga mata air adat yang berada di dekat gendang yang menjadi mata air adat atau wae barong. Beberapa gendang di Ruteng, katanya, sudah memiliki mata air tersendiri, tetapi mata air tersebut belum tentu bisa dijadikan sebagai sumber mata air untuk minum. Untuk keperluan cuci, mandi dan pertanian sangat tidak dipikirkan tetapi untuk air minum harus diambil dari mata air yang tidak boleh tercemar, minimal di atas mata air tersebut tidak ada aktivitas atau menjadi rumah tinggal penduduk.
Di Ruteng saja, kata Man, mata air yang dijadikan sumber air minum bersih nyaris merata di beberapa kelurahan tetapi mata air tersebut harus bersumber dari hutan di mana di atasnya tidak boleh diduduki penduduk dan layak untuk dikonsumsi sebagai air sehat dan aman konsumsi.
Beberapa mata air minum tersebut, kata dia, di antaranya Wae Ri’i, Wae Palo, Wae Ngger Nggok, Wae Ces, Wae Pong, Wae Rowang, Wae Palo 2, Wae Lerong 1 dan 2, Wae Reget, Wae Ajang, Waemoro, dan Wae Decer. Ke-13 mata air tersebut, yang belum dimanfaatkan oleh PDAM, yaitu Wae Decer, Wae Ajang dan Wae Moro.
10 mata air yang sudah dimanfaatkan oleh PDAM debitnya mencapai 129 liter/detik ditambah dengan 3 mata air lainnya, masing-masing, Wae Decer 20 liter/detik, Wae Ajang 8 liter/detik, sedangkan Wae Moro, debitnya cukup besar. “Dari 10 mata air yang sudah dimanfaatkan sudah memenuhi kebutuhan, begitu ditambah dengan 3 mata air lainnya maka akan mememuhi”, jelas Man.
Dikatakannya, untuk keperluan di luar air minum termasuk memasak, di gendang-gendang sudah banyak mata air namun memang mata air wae barong juga harus dimanfaatkan dengan cara dibakkan sehingga bisa dialiri di rumah-rumah warga khusus untuk mandi, cuci, dan keperluan lainnya termasuk pertanian.
Mata air wae barong orang Taga, misalnya Wae Riwung, yang dulu dimanfaatkan sebagai wae barong untuk nenek moyang mereka. Air tersebut masih dimanfaatkan untuk upacara adat Manggarai sebagai filosofi keempat. Wae barong terkadang debitnya besar terkadang kecil. Wae barong Wae Riwung debitnya kecil tetapi airnya bisa dimafaatkan untuk air minum bersih karena tepat berada agak jauh dengan perkampungan Taga.
Jika ada masyarakat yang masih mengeluh air, persoalan yang paling terus dibenahi sebenarnya adalah instalasi dan bak penampung yang begitu besar. Karena itu, dukungan dari pemerintah dan DPRD dalam hal dana sangat diperlukan. Diharapkan, pintanya, bak-bak penampung segera dibangun termasuk instalasi-instalasi pemipaan segera masuk ke rumah-rumah warga.
Masalah air di Ruteng memang menjadi masalah penting mengingat kian membeludaknya masyarakat yang datang ke kota ini terutama anak-anak SMP, SMA/SMAK, dan STKIP St. Paulus Ruteng dan STIPAS St. Sirilus Ruteng yang mengenyam pendidikan di kota ini. “Nah, ini yang perlu dipikirkan bersama bagaimana ketersedian air di Ruteng tidak mengalami kendala lagipula kota tersebut merupakan persinggahan para wisatawan yang hendak ke Labuan Bajo, Ende dan Wae Rebo”, tandasnya. Dia meminta agar pemimpin baru 5 tahun ke depan harus secara bersama-sama memikirkan hal ini agar segera diatasi.
Untuk diketahui, Ruteng menjadi kota pendidikan dan juga kota biara. Terdapat begitu banyak sekolah negeri dan swasta yang berdiri tegak di Ruteng. Biara-biara pun juga demikian. Selebihnya, pertanian di Ruteng kian meningkat mulai dari persawahan, tanaman hortikurtura juga kebutuhan untuk pencuncian kendaraan dan seluruh kebutuhan perabot rumah tangga, yaitu ngepel dan kebersihan selokan dan kebersihan di sekitar lingkungan rumah penduduk dan perkantoran. (Melky Pantur)
Tidak ada komentar: