DESA PEMAKAN TANAH DI TUBAN
Makan tanah bukan kata kiasan yang biasanya berkonotasi negatif, namun makan tanah yang dilakukan oleh warga desa ini adalah makan tanah sesungguhnya. Entah bagaimanaSeperti yang dirangkum dari berbagai sumber, Di Korong Olo, Nagari Sumpur, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman Sumatra Barat, Maret 2012 lalu, dua anak bernama Rio yang kala itu berumur 5 tahun dan Rizki berumur 8 tahun terbiasa makan tanah. Menurut informasi masyarakat sekitar mereka terpalsa makan tanah akibat kemiskinan yang membelenggu keluarga mereka.
Kedua anak itu kemudian diketahui menderita marasmus dan kwashiorkor atau yang biasa disebut gizi buruk. Kedua anak yang masih bersaudara itu terpaksa dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pariaman.
Peristiwa serupa juga dialami pada seorang balita di Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung. Mawardanu (4), dirawat di RS karena menderita busung lapar. Tim medis menemukan tanah di dalam tubuhnya. Keluarga dan tetangga mengakui balita tersebut memang kerap memakan tanah.
Awalnya, keluarga tidak tahu penyakit yang diderita Danu. Namun kondisi anak keempat dari empat bersaudara ini kian memburuk dari hari ke hari. Akhirnya, meski tak memiliki biaya, keluarga nekat membawa Danu ke rumah sakit. RSUD Pangkalpinang saat itu menyatakan, berdasarkan diagnosa, Danu mengalami busung lapar. Tim medis sempat menemukan tanah di dalam tubuh pasien tersebut. “Kondisinya masih kritis sekarang dan harus menjalani penanganan intensif,” katanya kepada media lokal setempat.
Kasus manusia makan tanah yang ditemukan Sumatra Barat dan Babel sungguh beda dengan kebiasaan warga makan tanah liat yang dipanggang di wilayah Tuban, Jawa Timur. Warga desa di Tuban ini makan tanah bukan karena kemiskinan tapi karena kebiasaan yang sudah turun temurun. Belum ada sumber yang menyatakan sejak kapan asal mula masyarakat di Tuban ini mulai makan tanah.
Makanan dari tanah yang diberi nama “Ampo” ini sudah menjadi makanan tradisional yang dipercaya masyarakat Tuban dapat menguatkan sistem pencernaan. Bahkan memakan tanah liat juga dipercaya sebagai obat yang dapat mengobati beberapa macam penyakit. Tuban merupakan satu-satunya tempat di dunia yang memakan tanah panggang. Memang ada orang-orang lain di dunia yang suka makan pasir, dan benda aneh lainnya, tapi tidak ada yang memakan tanah panggang.
Salah seorang warga mengatakan bahwa dia sudah memakan tanah sejak dia masih kecil dan menurut dia makan tanah bisa untuk mendinginkan perutnya. Dan, berasa lebih nyaman.
Rasima, sang penjual Ampo, mengatakan bahwa tidak ada resep khusus untuk mengolah tanah tersebut untuk dikonsumsi. Dia hanya mencari tanah yang bersih lalu dibuang kerikilnya, setelah itu tanah ditumbuk dan dipadatkan sehingga berbentuk segi empat. Tanah adonan segi empat diiris tipis dan digulung mirip stik menjadi beberapa stik yang kemudian dipanggang dan diasap selama hampir 1 jam. Rasima bisa mendapat hasil sebesar 20 per hari dari penjualan 'jajan stik tanah' tersebut (source : www.macem2.com)
asal muasalnya, mungkin merupakan tradisi atau juga disebabkan karena faktor kemiskinan yang kemudian menjadi tradisi yang turun temurun.
Tidak ada komentar: