Raskin Rusak Dan Berjamur Dibagikan Di Kabupaten Malang

Malang, Tribun NusantaraPenyaluran jatah beras miskin (raskin) kepada masyarakat baik di Kota maupun di Kabupaten Malang, diketahui tidak layak dikonsumsi. Bneras-beras tersebut banyak yang berbau apek, hancur dan berwarna kekuning-kuningan. Hal tersebut ditemukan saat pembagian di Kelurahan Purwodadi Kecamatan Blimbing Kota Malang dan di Desa Pandanlandung Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.



Menyikapi hal itu, koordinator LSM Pijar Keadilan, Mahmudi akan menyoal Bulog setempat yang berkompeten dalam pembagian beras jatah ini. Disamping itu, dia juga menyayangkan sikap kepala desa maupun lurah yang tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum beras itu didistribusikan kepada masyarakat.

Karena beras yang diberikan adalah standar poremium dengan subsidi harga Rp. 6.000 per kilogram, maka pendistribusiannya harus diawasi, jangan mentang-mentang orang miskin diberi beras seenaknya, ungkapnya kepada Tribun Nusantara belum lama ini.

Dari hasil investigasi yang dilakukannya, lanjut Suprapto, beras yang berbau apek, hancur dan berwarna kuning ini dijual kepada masyarakat dalam 5,5 kilogramnya seharga Rp. 24.000 Hal ini ditemukan di Kelurahan Purwodadi Kecamatan Blimbing Kota Malang, Harusnya Lurah setempat ikut mengawasi beras itu baik atau jelek, dan Bulog sendiri sebelum droping ke lapangan harus kontrol terlebih dahulu serta jangan sampai masyarakat miskin dirugikan, tandasnya.

Hal yang sama terjadi di Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Di desa dengan jumlah KK kurang lebih 10.000 jiwa ini, banyak masyarakat yang mengeluh adanya beras yang semakin lama semakin jelek kwalitasnya. Selain remuk, beras tersebut apek serta berdebu hingga tidak layak untuk dikonsumsi. Dari jumlah KK sepuluh ribu jiwa lebih, Cuma dapat 146 zak, apakah cukup untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan, ungkap Suprapto.

Salah satu warga yang enggan disebut namanya mengatakan, dia bersama warga lainnya sering mendapatkan jatah beras yang tidak layak untuk dimakan. Karena memang butuh untuk dimakan sehari-hari terpaksa beras itu diambil meski sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi “Ya terpaksa jatah raskin kami ambil katanya”

Beras yang sudah diambil ini, oleh warga diselep ulang agar bisa dimakan. Dari 15 kilogram sesuai jatah, yang bisa dimakan hanya 5 kilogram saja. Sisanya oleh warga dijadikan makanan ternak karena kondisinua hancur. Untuk selep ulang, kita juga mengeluarkan ongkos, itupun yang bisa dimakan hanya sekitar lima kilogram saja, sisanya kami buat makanan ayam” gerutu warga (Nif/Mul/Rd)






Tidak ada komentar: