HERY-ADOLF Siap Tolak: Tambang, Politisir Pendidikan dan Kesehatan
Ruteng,tribunusantara-Balon Bupati dan Wakil Bupati Manggarai 2015-2020, NTT, Heribertus GL. Nabit-Adolfus Gabur (Hery-Adolf) yang diusung oleh PDI Perjuangan, NasDem, Hanura, Golkar dan PKB 100% menolak kehadiran tambang di Kabupaten Manggarai (tambang jenis galian A, B-red).Nabit saat jumpa pers dengan sejumlah awak media di Sekretariat Gotong Royong mengatakan bahwa paketnya akan siap berjalan bersama Gereja Katolik Manggarai untuk menolak aktivitas tambang.
Menurutnya, soal tambang harus belajar dari kabupaten tetangga. Dia menyangsikan mengapa tetangga bisa moratorium izin tambang, toh Manggarai tetap mengeluarkan Surat Izin Usaha Pertambangan (SIUP)?
Saat orasi politik pasca pendaftaran di KPU, Hery Nabit, menyampaikan sebaiknya mengikuti apa kata Gereja. Gereja, kata dia, tidak perlu repot-repot meminta kepada Pemkab Manggarai untuk menghentikan aktivitas pertambangan. Pemerintah mesti sadar ketika Gereja sudah meminta hentikan tambang di Manggarai.
“Kami siap menolak tambang di Manggarai. Ikuti dulu apa kata Gereja, jika Gereja meminta, minimal kita harus ikut”, demikian ulasan kekecewaanya terhadap kondisi pengelolaan pertambangan di tanah Manggarai di depan ribuan massa pendukungnya.
Selain menghentikan aktivitas tambang, dia juga akan menghentikan politisasi pendidikan dan kesehatan. Dia menyesalkan jika ada Kepala Sekolah di Manggarai yang menjadi tim sukses demi kekuasaan dari paket tertentu sangat-sangat disayangkan. Bagi dia, menjadi Kepala Sekolah khususnya PNS tidak boleh dipolitisir begitupula bidang kesehatan.
“Begitu dipolitisir, mau jadi apa ini Manggarai? Itu makanya ada sekolah yang nilai ketuntasannya nol porsen. Nah, begitupula dengan bidang kesehatan melihat pada angka KIA yang ratingnya malah terus melonjak naik? Jangan berharap, bila Hery-Adolf sukses dalam Pilkada 9 Desember 2015, keluarga yang persis merapat akan diangkat menjadi Kepala Sekolah. Itu tidak mungkin”, demikian celetupan balon Bupati yang pernah bersanding dengan Doktor Yustina Ndung pada Pilkada Manggarai 2010 itu.
Tidak hanya soal pendidikan dan kesehatan, Nabit juga menyinggung soal infrastruktur jalan. Pendapatnya, kuantitas panjang jalan di Manggarai kian oke tetapi kualitasnya kurang dengan nyaris tiap tahun terus diperbaiki.
“Sangat rugi kalau tiap tahun Pemkab urus perbaik jalan. Bangun jalan diharuskan tiap 5 tahun baru diperbaiki bukannya tiap tahun kerja hanya perbaik-perbaik jalan yang rusak. Karena itu, bagi para kontraktor yang persis mendukung kami jangan harap dapat proyek kalau administrasi tidak jelas”, ujar putra asal alumnus Master Netherland tersebut. (Melky Pantur)
Tidak ada komentar: